Senin, 22 Oktober 2012

KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PEMAKAIAN E-MAIL

KEUNTUNGAN

1. Nyaman : karena tidak perlu pergi ke kantor pos, cukup duduk di depan komputer anda yg sudah terhubung dengan Internet.
2. Cepat : pengiriman e-mail dapat berlangsung dengan cepat asal saluran Internet yg digunakan tidak bermasalah.
3. Murah : sekali anda terhubung ke Internet, biaya pengirimana e-mail relatif sangat murah dibandingkan dengan menggukan perangko.
4. Hemat sumber daya : tidak perlu beli kertas, pulpen, perangko.
5. Aman : karena ada passwordnya.
6. Reliabel : e-mail dapat disimpan di e-mail server, e-mail tidak akan hilang kecuali bila dihapus.
7. Global : e-mail dapat dikirim ke seluruh dunia.
8. Memungkinkan pengiriman pesan berformat multimedia : e-mail yg dikirim dpt berupa teks, gambar, video, program, suara dll.
KELEMAHAN PEMAKAIAN E-MAIL :

1. Salah Kirim : karena salah menulis alamat e-mail yang dituju.
2. Rawan Penyadapan : Password yg diketahui oleh orang lain, atau karena menggunakan web e-mail gratis.
3. Adanya kemungkinan pemalsuan identitas.
4. Kebanjiran e-mail/ spam/ mailboxnya penuh.
5. Respon terlambat.

Minggu, 21 Oktober 2012

MITOS NYI RORO KIDUL

Anda percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari Anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini.

Konon ceritanya, di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya keluar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan.

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukanKerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalamBabad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi Anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar.

Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta Percayakah Anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari Anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakartapaling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selataninilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.

Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahunSri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semangyang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta)memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

KEINDAHAN LAUT DI INDONESIA TIMUR

Tidak dapat dipungkiri, keindahan alam bawah laut Indonesia mulai rusak dengan banyaknya terumbu karang yang mati. Meski demikian, wilayah di timur Indonesia masih memiliki terumbu karang alami nan cantik.
Salah satu daya tarik wisatawan mancanegara datang ke Indonesia adalah keindahan alam bawah lautnya. Sayangnya, tidak semua perairan di Indonesia masih terawat. Bahkan, terumbu karang di beberapa perairan seperti Teluk Jakarta, sudah mati karena pencemaran. Berita ini tentu kabar buruk untuk pecinta laut, terutama para penyelam. Tapi syukurlah, masih ada perairan di Indonesia yang terawat dengan baik.

"Terumbu karang di Indonesia masih banyak yang terawat dan bagus untuk dilihat ketika diving, kalau mau lihat bawah laut yang eksotis, bisa datang ke Indonesia bagian Timur, seperti Papua" kata Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Kelautan IPB, Dr Ir Nevianty P Zamani, di Cafe Serongge, Jl Utan Kayu 68H, Jakarta Timur, saat jumpa pers Coral Day.

Menurutnya, alam Indonesia Timur memang masih terjaga dengan baik karena masih jarang penduduk. Jadi, pencemaran tidak begitu banyak terjadi dan Anda pun akan menemukan alam bawah laut yang begitu eksotis.

Salah satu objek wisata yang sedang naik daun di kalangan turis adalah Raja Ampat. Kepulauan di Papua Barat ini memiliki alam bawah laut yang begitu memesona. Cobalah menyelam di sana, Anda pun akan melihat terumbu karang dan ikan aneka warna. Air lautnya juga begitu bening, masih terjaga dari polusi. Saking beningnya, Anda bisa melihat ikan yang sedang bebas berenang, cukup dari atas perahu.

Jika Papua dan Indonesia Timur dirasa terlalu jauh, Anda pun bisa berjalan ke Indonesia bagian Barat. Di sana kehidupan bawah lautnya cukup terjaga dengan baik. Masih cantik untuk dinikmati saat Anda diving.

"Di barat ada Nias dan Mentawai yang masih bagus," lanjut Nevi.

Tidak hanya itu, terumbu karang di Kepulauan Seribu lumayan terawat karena penduduknya berusaha menjaga. Untuk turis atau wisatawan yang menyukai diving tapi masih pemula, cocok menyelam di perairan ini.

"Sebenarnya, Kepulauan Seribu juga bagus, cocok untuk para pemula dan wisata edukasi," jelas Nevi.

PELANGI API

Fenomena pelangi api di langit menyapa wilayah selatan Florida, Amerika Serikat pada Selasa (31/7/2012) kemarin. Fenomena yang langka dan sangat memesona ini berhasil diabadikan dalam foto. Apa sejatinya pelangi api?
Pelangi api sebenarnya adalah awan yang berwarna-warni. Berdasarkan keterangan NASA, awan ini terjadi karena awan yang tersusun atas air dengan ukuran seragam. Awan ini mampu memantulkan, membiaskan, dan mendifraksi cahaya.
Proses pembentukannya mirip seperti pelangi umumnya. Fenomena ini juga terjadi karena proses pemantulan, pembiasan, dan difraksi cahaya matahari. Demikian juga warnanya, pelangi api juga terdiri atas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
Meski demikian, mekanisme bagaimana pelangi dan pelangi api terbentuk berbeda. Pelangi terbentuk lebih karena proses pemantulan dan pembiasan. Sementara pelangi api lebih disebabkan oleh proses difraksi.
Dalam proses pembentukan pelangi, cahaya dibelokkan saat melewati lapisan dengan massa jenis berbeda. Cahaya akan memantul dengan sudut yang sama dengan sudut datangnya. Di dalam proses difraksi, gelombang cahaya diubah menjadi bentuk seperti cincin.
Pelangi api biasanya terjadi pada awan yang baru terbentuk. Menurut Weather Channel, pelangi api adalah awan pileus yang terbentuk akibat badai yang mendorong udara ke lapisan atmosfer lebih atas lewat suatu lapisan lembab.

UNTUK IBU


Maaf Ibu,
Kadang kuluput memikirkanmu
Karena seringnya memikirkan diriku
Kadang aku tidak membantumu
Karena sering bergelut dengan kesibukkanku
Kadang aku pergi meninggalkan rumah dan ibu
Karena seringnya pergi dengan teman-temanku
Kadang aku jarang bicara denganmu
Karena seringnya berhadapan dengan Komputer dan Televisi dikamarku
Tapi kini, kusangat sadar Ibu
Di hati dan Otakku hanya Ibu
Betapa ku butuh bantuan Ibu
Betapa aku selalu ingin menemani Ibu kemanapun itu
Betapa aku pun ingin selalu curhat dengan Ibu mengenai masalahku
Betapa aku butuh perhatian dan sayang Ibu di saat sakitku
Betapa aku pun butuh pundak Ibu, di saat tangisku
Ibu…
Ibu sungguh Inspirasiku
Ibu sungguh cinta dan sayangku
Ibu sungguh tautanku
Ibu benar segala2nya untukku
Maafkan aku Ibu
Aku manusia yang tak sempurna, yang selalu punya dosa dan membuatmu terbeban olehku
Hingga kadang Ibu menangis dan Jarang tersenyum karna ulahku
Tapi….
Aku yakin akan satu Hal
Do’a Ibu, bisa merubah dan menjadikan aku sebagai orang yang berhasil dan berguna untuk ibu atau siapa pun itu
Dan yang terpenting
Aku selalu sayang Ibu
SELALU…..

TARIAN JAIPONG

Jaipongan adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan atau Bajidoran atau Ketuk Tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Jaipongan.
jaipongKarya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat frekuensi pertunjukkannya baik di media televisi, hajatan, maupun perayaan-perayaan yang disenggelarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.
Dari tari Jaipong ini mulai lahir beberapa penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kirniadi. Kehadiran tari Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para pencinta seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang di perhatikan. Dengan munculnya tari Jaipongan ini mulai banyak yang membuat kursus-kursus tari Jaipongan, dan banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk pemikat tamu undangan.
Di Subang Jaipongan gaya “Kaleran” memiliki ciri khas yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang.
Tari Jaipongan pada saat ini bisa disebut sebagai salah satu tarian khas Jawa Barat, terlihat pada acara-acara penting kedatangan tamu-tamu dari Negara asing yang datang ke Jawa Barat, selalu di sambut dengan pertunjukkan tari Jaipongan. Tari Jaipongan ini banyak mempengaruhi pada kesenian-kesenian lainnya yang ada di Jawa Barat, baik pada seni pertunjukkan wayang, degung, genjring dan lainnya yang bahkan telah dikolaborasikan dengan Dangdut Modern oleh Mr. Nur dan Leni hingga menjadi kesenian Pong-Dut.

BRONTOSAURUS

Apatosaurus, lebih populer dengan nama Brontosaurus

1. Nama dan Arti
Apatosaurus, dikenal dengan nama populer Brontosaurus, adalah genus dari dinosaurus sauropoda yang hidup  sekitar 154 hingga 150 juta tahun lalu, selama Periode Jurasik. Apatosaurus salah satu hewan tanah terbesar yang pernah ada, dengan panjang rata-rata 23 m dan massa setidaknya 23 ton. Apatosaurus berasal dari bahasa Yunani apate nama yang berarti "menipu" dan “sauros” yang berarti "kadal". Jadi Apatosaurus artinya, "kadal menipu".  Otniel Charles Marsh memberi nama ini karena ia menganggap tulang chevron mirip dengan mosasaurus, anggota dari kelompok kadal laut prasejarah.

2. Deskripsi
Ekor Apatosaurus panjang seperti cemeti
Tulang-tulang kaki jauh lebih gempal, menyiratkan binatang ini lebih kuat dari Diplodocus. Ekor di atas tanah selama gerak normal. Seperti sauropoda kebanyakan, Apatosaurus memiliki cakar tunggal yang besar pada setiap tungkai depan, dengan tiga jari pertama pada kaki belakang memiliki cakar. Sebuah studi mikroskopis tulang Apatosaurus menyimpulkan bahwa hewan-hewan tumbuh pesat ketika muda dan menjadi dewasa sekitar 10 tahun. Tengkorak kecil dibandingkan dengan ukuran hewan. Rahang berbaris dengan gigi spatulate, yang menyerupai pahat, cocok untuk herbivora.
 Apatosaurus terlalu besar untuk mendukung berat sendiri di tanah kering, jadi mengira hidup sebagian terendam dalam air, mungkin dalam rawa. Temuan terbaru tidak mendukung hal ini. seperti Diplodocus, Apatosaurus merumput dengan leher yang sangat panjang dan ekor panjang yang berfungsi sebagai penyeimbang. Leher  diplodocid kurang fleksibel daripada yang diyakini sebelumnya, Apatosaurus beradaptasi untuk mencari makanan dari tumbuhan rendah atau tumbuhan dekat tanah. Namu dengan tubuhnya yang besar tidak kesulitan menjangkau makanan dari daun pohon, pakis, semak, sikas, tumbuhan runjung, gingko.
Pada awal abad 20, diplodocids seperti Apatosaurus sering digambarkan dengan leher mereka mengangkat tinggi di udara, yang memungkinkan mereka untuk merumput dari pohon tinggi. Baru-baru ini, para ilmuwan berpendapat bahwa jantung akan mengalami kesulitan mempertahankan tekanan darah yang cukup oksigen ke otak. Selanjutnya, penelitian yang lebih baru telah menunjukkan bahwa struktur tulang leher tidak akan mampu menekuk jauh ke atas. Penelitian  selanjutnya menunjukkan bahwa semua tetrapoda mampu menahan leher mereka sedikit lebih tinggi dari  posisi normal, pada saat waspada. Apatosaurus, seperti Diplodocus, akan memposisikan lehernya miring ke atas dengan kepala menunjuk ke bawah dalam posisi istirahat.
Mengingat massa tubuh besar Apatosaurus, dikombinasikan dengan leher yang panjang, ahli fisiologi telah mengalami masalah menentukan bagaimana hewan-hewan ini berhasil untuk bernapas.  Diduga seperti burung, memiliki kantung udara ganda dan paru-paru utama. Volume dada keseluruhan Apatosaurus telah diperkirakan 1.700 liter memungkinkan untuk 500-liter, memiliki empat-bilik jantung, seperti burung, bukan tiga-bilik seperti reptil,  dan kapasitas paru-paru 900-liter. Yang akan memungkinkan sekitar 300 liter untuk yang diperlukan jaringan. Dengan asumsi Apatosaurus memiliki sistem pernafasan burung dan metabolisme istirahat-reptil, itu akan perlu untuk mengkonsumsi hanya sekitar 262 liter air per hari. Ekor Apatosaurus mempunyai struktur sangat panjang, meruncing menyerupai cambuk. Pemodelan komputer menunjukkan bahwa sauropoda mampu menghasilkan suara seperti lecutan cambuk lebih dari 200 desibel,  sebanding dengan volume meriam.

3. Klasifikasi
Nama Dinosaurus: Apatosaurus
Nama dan Artinya: "Kadal menipu," karena bingung membedakan dengan tulang dinosaurus lain
Hidup pada Zaman: Jura Akhir, 156-144.000.000 tahun yang lalu
Lokasi: Amerika Serikat, Meksiko